Ust. Rois Mahfud Kupas Tafsir QS Hud Ayat 32–33: Keteguhan Nabi Nuh dalam Perjuangkan Tauhid

SHARE

Palangka Raya, 12 Agustus 2025 — Dalam kajian ba’da salat Subuh di Masjid Darul Arqom, Kompleks Perguruan Muhammadiyah Palangka Raya, Ust. Rois Mahfud mengupas tafsir surah Hud ayat 32–33. Beliau menjelaskan, ayat ini menggambarkan dialog antara Nabi Nuh dan kaumnya yang menolak ajaran tauhid, bahkan menantang untuk segera mendatangkan azab Allah.

Ust. Rois membacakan firman Allah SWT dalam QS Hud ayat 32:

“Mereka berkata, ‘Wahai Nuh! Sungguh engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahan itu. Maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang yang benar.”

Beliau menerangkan bahwa umat Nabi Nuh sudah terlalu sering membantah ajaran tauhid yang beliau sampaikan. Mereka tetap mempertahankan penyembahan berhala-berhala mereka seperti Lata, Uzza, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, meskipun Nuh mengajak kepada penyembahan hanya kepada Allah yang Maha Esa.

“Ini adalah bentuk pembangkangan kaum yang hatinya tertutup. Tauhid yang diajarkan Nuh bertujuan membersihkan akidah, namun mereka lebih memilih mempertahankan adat penyembahan berhala yang diwariskan leluhur,” jelas Ust. Rois.

Menurutnya, walaupun pengikut Nabi Nuh kebanyakan berasal dari kalangan masyarakat awam, beliau tetap teguh memperjuangkan dakwah. Ancaman mereka untuk mendatangkan azab bukanlah persoalan kecil, tetapi Nuh menyadari bahwa azab adalah urusan Allah, bukan kehendak manusia.

Ust. Rois mengaitkan sikap ini dengan sifat kesombongan.

“Kaum Nuh menentang kebenaran, dan itu tanda kesombongan. Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.’ Seorang laki-laki bertanya: ‘Bagaimana jika seseorang suka sandalnya bagus, pakaiannya bagus, apakah itu kesombongan?’ Rasul menjawab: ‘Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain’ (HR Muslim).”

Beliau menegaskan, orang sombong tidak akan mau mengubah dirinya, bahkan tetap dalam kesyirikan. Padahal di ayat sebelumnya Allah sudah memperingatkan melalui Nuh: “Aku takut kamu akan ditimpa azab yang pedih.”

“Tugas seorang rasul hanyalah menyampaikan risalah. Apakah diterima atau ditolak, itu urusan Allah,” tambahnya.

Selanjutnya, Ust. Rois membacakan QS Hud ayat 33: “Dia (Nuh) berkata, ‘Sesungguhnya hanya Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak akan mampu menolaknya.”

Beliau menjelaskan bahwa jawaban Nuh ini adalah bentuk penegasan bahwa azab bukanlah dalam kendali manusia, melainkan semata-mata kehendak Allah. Ini menjadi peringatan serius akan kelemahan manusia di hadapan kekuasaan-Nya.

“Kesombongan itu penghalang terbesar untuk masuk surga. Orang yang keras hati, walau sudah diperingatkan, tetap akan menolak kebenaran. Namun Nabi Nuh memberi teladan: walau ditantang dan direndahkan, beliau tidak berhenti berdakwah,” ujar Ust. Rois.

Kajian ini ditutup dengan pesan bahwa semua urusan balasan, baik azab maupun rahmat, adalah hak prerogatif Allah. Manusia hanya diminta untuk beriman, beramal saleh, dan menjauhi kesombongan agar selamat di dunia dan akhirat.

 

Ditulis oleh Muslimah sekretaris PWA Kalteng