Menanam Tauhid yang Kuat Seperti Pohon yang Kokoh Ust. Drs. H. Bisman, SH. MH Kupas QS Ibrahim Ayat
Palangka Raya – Kamis, 31 Juli 2025- Masjid Darul Arqom yang berada di kompleks Perguruan Muhammadiyah Palangka Raya kembali menjadi saksi penyampaian ilmu yang mencerahkan. Dalam kajian ba’da shalat Subuh yang dihadiri oleh jamaah dari organisasi persyarikan Muhammadiyah termasuk dari jamaah pengajian PWA Kalimantan Tengah dan jamaah masyarakat setempat. Ust. Drs. H. Bisman, SH. MH menyampaikan tafsir mendalam dari Surah Ibrahim ayat 24–25. Tema sentral kajian tersebut adalah tentang pentingnya menanam dan merawat tauhid, sebagaimana diumpamakan Allah dalam ayat tersebut dengan sebuah pohon yang baik.
"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.” (QS Ibrahim: 24)
Ust. Drs. H. Bisman, SH. MH membuka kajiannya dengan menegaskan bahwa ‘kalimah thayyibah’ yang dimaksud dalam ayat ini adalah kalimat tauhid: ‘La ilaha illallah’ — pengakuan atas keesaan Allah SWT. Kalimat ini merupakan inti dari seluruh ajaran para nabi sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW.
"Tauhid adalah ajaran abadi yang tidak berubah, meskipun zaman berganti. Inilah yang menjadi pondasi bagi kehidupan seorang mukmin,” ujar beliau.
Ust. Drs. H. Bisman, SH. MH menjelaskan bahwa Allah SWT menggambarkan kalimat tauhid seperti pohon yang baik. Ada tiga ciri utama pohon yang baik menurut ayat tersebut:
- Akarnya kokoh dan menghujam ke dalam tanah.
Artinya, tauhid harus benar-benar menancap dalam hati orang beriman. Hati diibaratkan tanah subur yang mampu menumbuhkan iman. Pohon tauhid yang kuat tidak akan goyah meski dihantam angin ujian dan godaan.
- Cabangnya menjulang ke langit.
Ini merupakan metafora bahwa seorang mukmin yang beriman teguh akan memancarkan kebaikan ke sekelilingnya. Baik melalui jabatan, ilmu, harta, maupun perilaku yang mulia.
- Menghasilkan buah setiap waktu.
Maknanya adalah keimanan yang membuahkan amal shalih dan manfaat yang terus menerus. Orang yang bertauhid benar akan mendapatkan ‘ajrun ghairu mamnuun’, pahala yang tidak terputus.
Sebagai penguat pesan, Ust. Drs. H. Bisman, SH. MH menyinggung kisah inspiratif Bilal bin Rabah, seorang budak yang memegang teguh kalimat tauhid meskipun disiksa oleh majikannya, Umayyah. Bilal tetap mengucapkan “Ahad... Ahad...” di tengah derita. Akhirnya, Bilal dibeli dan dimerdekakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
"Bilal menjadi simbol kekokohan iman. Meski ia tidak punya harta, jabatan, atau kekuasaan, tapi ia memiliki pohon tauhid yang kokoh di hatinya,” jelas Ust. Drs. H. Bisman, SH. MH
Bilal pun menjadi muazin pertama dalam sejarah Islam, sebuah kehormatan yang menjadi buah dari keimanan yang murni dan istiqamah.
Di akhir kajiannya, Ust. Drs. H. Bisman, SH. MH mengingatkan bahwa sebagaimana pohon, tauhid juga perlu dirawat agar terus tumbuh dan memberi manfaat. Ia tidak akan tumbuh tanpa musim dan lahan yang sesuai. Demikian pula iman memerlukan lingkungan yang baik, amal yang terus diperbarui, serta ketekunan dalam menghadapi ujian kehidupan — seperti ekonomi yang sulit, godaan harta, jabatan, hingga syahwat.
"Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula godaannya. Maka rawatlah iman kita agar tetap kokoh dan berbuah,” pungkas beliau.
Semoha seluruh jamaah dimudahkan dalam menjaga dan merawat tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita tanam pohon tauhid dalam hati kita, rawat dengan amal shaleh, dan panen buahnya di dunia maupun akhirat.(ms)